Selasa, 12 Februari 2013

PostHeaderIcon Pandangan Islam Mengenai Kecerdasan

1. A. Pengertian Kecerdasan Kecerdasan (dalam bahasa inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami secara sempurna. J.P chaplin merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: (1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru dengan cepat dan efektif; (2) Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif yang meliputi empat unsur seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengkritik; (3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali. Willian stern mengemukakan bahwa intelegensi berarti kapasitas umum dari seorang induvidu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohani secara umum yang disesuaikan dengan problema-problema kehidupan. B. Macam-macam Kecerdasan 1. Kecerdasan Intelektual Kecerdasan intelektual adalah yang berhubungan dengan proses kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan, dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Atau, kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemexahan masalah dengan menggunakan logika. Menurut Thurstone, dengan teori faktornya, menentukan 30 faktor yang menentukan kecerdasan itelektual, tujuh diantaranya yang dianggap paling utama untuk elabilitas -ebiliatsan mental, yaitu : (1) mudah dalam mempergunakan bilangan; (2) Baik ingatan; (3)Mudah menangkap hubungan-hubungan percapakan; (4) Tajam Penglihatan; (5) Mudah menarik kesimpulan dari data yang ada; (6) Cepat mengamati; dan (7) cakap dalam memecahkan berbagai problem. Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan rasio (rational intelligence), sebab ia menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah. Dengan kehadiran konsep-konsep baru tentang kecerdasan, maka IQ tidak lagi bermakna intelligence quotient, melainkan intellectual quotient. Perubahan ini sebagai bandingan dengan istilah EQ (emotional quotient), MQ (Moral quotient), dan SQ (spiritual quotient). 2. Keceradan Emosional Goleman mendefinisikan emosi dengan perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi juga merupakan reaksi kompleks yang mengkait satu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam serta dibarengi dengan perasaan (feeling) yang kuat atau disertai keadaan efektif. Crow and Crow mendefinisikan emosi dengan suatu keadaan yang mempengaruhi dan menyertai penyesuaian di dalam diri secara umum, keadaan yang merupakan penggerak mental dan fisik bagi individu dan yang dapat dilihat melalui tingkah laku. Salovey dan Meyer menggunakan istilah kecerdasan emosi untuk menggambarkan sejumlah kemampuan mengenali emosi dari sendiri, mengenali orang lain, dan membina hubungan dengan orang lain. Ciri utama pikiran emosional adalah respons yang cepat tetapi ceroboh, mendahulukan perasaan daripada pemikiran, realitas simbolik yang seperti anak-anak, masa lampau di posisikan sebagai masa sekarang, dan realitas yang ditentukan oleh keadaan. Kecerdasan emosional merupakan hasil kerja dari otak kanan, sedangkan kecerdasan intelektual merupakan hasil kerja otak kiri. Menurut Deporter dan Hernacki, otak kanan manusia memiliki cara kerja yang logis, sekuensial, rasional, dan linier. Kendala yang sering menghalangi kecerdasan emosi adalah rasa malu, tidak mampu mengekspresikan perasaan, terlalu emosional, perasaan yang mendua, frustasi, tidak ada motivasi diri, sulit berempati, dan sulit berteman. 3. Kecerdasan Moral Robert Coles mengemukakan bahwa kecerdasan moral seolah-olah bidang ketiga dari kegiatan otak setelah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional) yang berhubungan dengan kemampuan yang tumbuh perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia. Indikator kecerdasan moral adalah bagaimana seseorang memiliki pengetahuan tentang moral yang benar dan yang buruk, kemudian ia mampu menginternalisasikan moral yang benar ke dalam kehidupan nyata, dan menghindarkan diri dari moral yang buruk. Orang yang baik adalah orang yang memiliki kecerdasan moral, sedangkan orang yang jahat merupakan orang yang “idiot” moral. Poedjawijatna mendefinisikan moral dengan “sikap dan tindakan yang mengacu pada baik dan buruk. Normanya adalah menentukan benar salah sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik dan buruknya. Sementara Bourke mendefinisikan moral (sebagai pandangan etika) dengan sudut pandang studi sistematis tentang tindakan manusia dari sudut pandang benar-salah, yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan puncak. Objek material adalah tindakan manusia, sebagai objek formalnya adalah kualitas kebenaran dan kesalahan dalam perilaku. 4. Kecerdasan Spiritual Zohar dan Marshall mendefenisikan kecerdasan spiritual sebagai puncak kecerdasan, setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan moral. Meskipun terdapat benang merah antara kecerdasan spiritual dan kecerdasan moral, namun muatan kecerdasan spiritual lebih dalam, lebih luas dan lebih transenden daripada kecerdasan moral. Kecerdasan spiritual merupakan konsep yang berhubungan dengan bagaimana sseorang ‘cerdas’ dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan spiritual disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencarai makan hidup dan mendambakan hidup yang bermakna. 5. Kecerdasan beragama Kecerdasan beragama adalah kecerdasan qalbu yang menghubungkan dengan kualitas beragama dan ketuhanan. Kecerdasan ini mengarahkan pada seseorang untuk berperilaku secara benar, yang puncaknya menghasilkan ketaqwaan secara mendalam, denagn dilandasi oleh eman kompetensi keimanan, lima kompetensi keislaman, dan multi kompetensi ihksan.

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.